Sejarah Pembentukan Dinasti Abbasiyah

Menjelang akhir dinasti Umayyah, terjadi kekacauan yang bermacam-macam antara lain:
Penindasan yang terus-menerus terhadap pengikut Ali dan bani Hasyim pada umumnya.
Merendahkan kaum muslimin non Arab sehingga mereka tidak diberi kesempatan dalam pemerintahan
Pelanggaran terhadap ajaran Islam dan hak-hak asasi manusia dengan cara terang-terangan.

Nama dinasti Abbasiyah diambil dari nama salah seorang paman Nabi Saw, yang bernama al-Abbas ibn Abd al-Muttalib ibn Hasyim, orang Abbasiyah merasa lebih berhak dari pada bani Umayyah atas kekhalifahan Islam, sebab mereka adalah dari cabang bani Hasyim yang secara nasab keturunan lebih dekat dengan Nabi.

Cikal bakal berdirinya dinasti Abbasiyah pada dasarnya di mulai pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz (Khalifah ke-9) pada dinasti Umayyah. Hal ini dimungkinkan karena kebijaksanaan beliau dalam menciptakan iklim kondusif dalam kehidupan berdemukrasi. Akibatnya rakyat memiliki kebebasan untuk berekspresi, sehingga dimanfaatkan sejumlah oposan untuk memprogandakan dinasti Abbasiyah. Situasi ini diperparah setelah beliau wafat diganti oleh khalifah yangn kuallitasnya beradah dibawah kualitas Umar bin Abdul Aziz. Ketika dinasti Umayyah runtuh, maka berdirilah dinasti Abbasiyah

Salah satu faktor yang memuluskan pembentukan dinasti ini adalah kemampuan diplomasi mereka yang meyakinkan, bahwa mereka ini adalah



keluarga dekat Nabi Saw, lebih dari itu isu yang ditiupkan dalam kampanye adalah komitmen untuk kembali menegakkan syariat Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah, ini dapat dilihhat dari pidato politik yang disampaikan oleh Abu Abbas al-Saffah.

Saat dibaiat, pada awal pidatonya al-Saffah memaparkan kesaliman dan penyelewengan yang dilakukan bani Umayyah. Kemudian dilanjutkan “sesungguhnya aku berharap kalian tidak akan lagi diidatangi kezaliman, pada saat kebaikan telah dating kepadamu tidak pula kehancuran setelah datangnya kebaikan”. Setelah memaparkan pidato politiknya, salah seorang pamannya berdiri dan berorasi “Demi Allah gerakan kami dilakukan tidak dilatarbelakangi oleh keinginan mengumpulkan harta, menggali sungai, membangun istana yang megah, dan menimbun emas dan perak, tetapi kami berbuat sebagai wujud protes atas sikap bani Umayyah yang telah merampok hak-hak kami, dan hak-hak keluarga Abi Thalib. Olehnya itu kami akan mengembalikan hak-hak tersebut dan kami bertekad untuk menegakkan al-Qur’an dan al-Sunnah.” Ada tiga tempat sebagai sentral kegiatan menuju terbentuknya Daulah bani Abbasiyah yaitu Humaimah, Khufah dan Khurasan. Pada kawasan Humaimah bermukim keluarga bani Hasyim yang terdiri dari pendukung keluarga Abbas dan ‘Ali ra. Sementara di Khufah bermukim para penganut Syi’ah yang sangatt mengagungkan ‘Ali sehingga selalu mendapatkan perlakuan tidak bersahabat, bahkan ditindah oleh bani Umayyah. Lain lagi di Khurasan yang penduduknya pemberani dan memiliki postur tubuh yang besar, tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak jelas.

Sejarawan lain mengatakan bahwa pendirian dinasti Abbasiyah di mulai dengan gerakan revolusioner tersebut sebagai wujud kekecewaan rakyat khususnya kelompok Mawali. Kekecewaan tersebut akibat perlakuan tidak adil yang dilakukan dinasti Umayyah, diperparah lagi timbulnya desintegrasi antara suku dan etnis dalam masyarakat, sehingga masyarakat mengharapkan sosok pemimpin yang baru.



Hasan Ibrahim Hasan, secara khusus mengedepankan dua faktor yang menjadi penyebab berdirinya dinasti Abbasiyah, antara lain:
Sikap politik yang ditempuh oleh Umar bin Abdul Aziz, yang meletakkan dasar demokrasi kepada penduduk sehingga melahirkan iklim kondusif untuk berbeda pendapat yang pada akhirnya melahirkan kelompok oposisi tanpa tekanan dari pihak khalifah.
Pertentangan kelompok Kisaniyah dan ‘Alawiyah di bawah pimpinan Abu Hasyim bin Mahmud al-Hanifiah kepada bani Umayyah, Abu Hasyim, menemui Hisyam bin Abd al-Malik (Khalifah ke-11 bani Umayyah). Pada pertemuan tersebut Abu Hisyam diracun oleh Khalifah Hisyam, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya Abu Hasyim pergi menemui ‘Ali bin Abdillah bin Abbas dan menyerahkan kepemimpinan kepadanya. Karrena peristiwa tersebut kedua kelompok (Kisanyiah dan Alawiyah) bersatu dan menentang dinasti Umayyah yang berimbas lahirnya gerakan Hasyimiah sebagai gerakan lahirnya dinasti Abbasiyah

Propaganda Abbasiyah dilaksanakan dengan strategi yang cukup matang sebagai gerakan rahasia. Akan tetapi, Imam Ibrahim pemimpin Abbasiah yang berkeinginan mendirikan kekuasaan, gerakannya diketahui oleh khalifah Umayyah yang terakhir, Marwan bin Muhammad. Ibrahim akhirnya tertangkap oleh pasukan dinasti Abbasiyah dan dipenjarakan di Haran dan kemudian dieksekusi. Ia mewasiatkan kepada Abul Abbas menggantikan kedudukannya ketika tahu bahwa ia akan terbunuh, dan memerintahkan pindah ke Khufa. Sedangkan pemimpin propaganda dibebankan kepada Abu Salamah. Segera Abul Abbas pindah dari Humaimah ke Khufa diiringi para pembesar Abbasiah yang lain seperti Abu Ja’far, Isa bin Musa, dan Abdullah bin Ali.

Penguasa Umayyah Yazid bin Umar bin Hubairah di Khufa berhasil ditaklukan oleh Abbasiyah, Abdullah bin Ali, salah seorang paman Abul Abbas diperintahkan untuk mengejar khalifah Umayyah yang terakhir, Marwan bin Muhammad. Ia melarikan diri hingga ke Fustat Mesir, dan akhirnya terbunuh di Busir, wilayah al-Fuyyum tahun 132 H/750 M. di bawah pimpinan Salih bin Alli, paman Abul Abbas yang lain.
sumber:irmaa