Kemajuan Dinasti Abbasiyah dan Para Khalifahnya


Berdirinya dinasti Abbasiyah yang dipimpin oleh khalifah pertamanya Abul Abbas al-Shaffah dengan kekuasaan awalnya di Khufah. Bani Abbasiyah mewarisi imperium yang besar dari bani Umayyah, mereka memungkinkan dapat mencapai hasil lebih banyak karena landasannya sudah dipersiapkan oleh bani Umayyah.
Kekuasaan dinasti Abbasiyah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, yaitu selama lima abad. Selama dinasti ini berkuasa pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbasiyah menjadi empat periode:
  1. Masa Abbasiyah I, yaitu semenjak lahirnya dinasti Abbasiyah tahun 132 H (750 M), sampai meninggalnya khalifah al-Watsiq 232 h (847 M)
  2. Masa Abbasiyah II, yaitu khalifah al-Mutawakkil pada tahun 232 H (847 M) sampai berdirinya daulah Buwaihiya di Baghdad pada tahun 334 H (946 M)
  3. Masa Abbasiyah III, yaitu dari berdirinya daulah Buwaihiyah tahun 334 H (946 M) sampai masuknya kaum Saljuk ke Baghdad tahun 447 H (1055 M)
  4. Masa Abbasiyah IV, yaitu masuknya orang-orang Saljuk ke Baghdad tahun 447 H (1055 M) sampai jatuhnya Baghdad ke tangan bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan pada tahun 656 H (1258 M).[5]
Sebelum Abul Abbas al-Shaffah meninggal, ia sudah mewasiatkan penggantinya, yakni saudaranya, abu Ja’far, kemudian Isa bin Musa, keponakannya. Sistem pengumuman putra mahkota ini mengikuti cara dinasti Umayyah. Para khalifah Abbasiyah berjumlah 37 khalifah, di antaranya:
1.Abul ‘Abbas al-Safaah (tahun 133-137 H/750-754 M)
2.Abu Ja’far al-Mansyur (tahun 137-159 H/754-775 M)
3.Al-Mahdi (tahun 159-169 H/775-785 M)
4.Al-Hadi (tahun 169-170 H/785-786 M)
5.Harun al-Rasyid (tahun 170-194 H/786-809 M)
6.Al-Amiin (tahun 194-198 H/809-813 M)
7.Al-Ma’mun (tahun 198-217 H/813-833 M)
8.Al-Mu’tashim Billah (tahun 218-228 H/833-842 M)
9.Al-Watsiq Billah (tahun 228-232 H/842-847 M)
10.Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah (tahun 232-247 H/847-861 M)
11.Al-Muntashir Billah (tahun 247-248 H/861-862 M)
12.Al-Musta’in Billah (tahun 248-252 H/862-866 M)
13.Al-Mu’taz Billah (tahun 252-256 H/866-869 M)
14.Al-Muhtadi Billah (tahun 256-257 H/869-870 M)
15.Al-Mu’tamad ‘Ala al-Allah (tahun 257-279 H/870-892 M)
16.Al-Mu’tadla Billah (tahun 279-290 H/892-902 M)
17.Al-Muktafi Billah (tahun 290-296 H/902-908 M)
18.Al-Muqtadir Billah (tahun 296-320 H/908-932 M)
19.Al-Qahir Billah (tahun 320-323 H/932-934 M)
20.Al-Radli Billah (tahun 323-329 H/934-940 M)
21.Al-Muttaqi Lillah (tahun 329-333 H/940-944 M)
22.Al-Musaktafi al-Allah (tahun 333-335 H/944-946 M)
23.Al-Muthi’ Lillah (tahun 335-364 H/946-974 M)
24.Al-Thai’i Lillah (tahun 364-381 H/974-991 M)
25.Al-Qadir Billah (tahun 381-423 H/991-1031 M)
26.Al-Qa’im Bi Amrillah (tahun 423-468 H/1031-1075 M)
27. Al Mu’tadi Biamrillah (tahun 468-487 H/1075-1094 M)
28. Al Mustadhhir Billah (tahun 487-512 H/1094-1118 M)
29. Al Mustarsyid Billah (tahun 512-530 H/1118-1135 M)
30. Al-Rasyid Billah (tahun 530-531 H/1135-1136 M)
31. Al Muqtafi Liamrillah (tahun 531-555 H/1136-1160M)
32. Al Mustanjid Billah (tahun 555-566 H/1160-1170 M)
33. Al Mustadhi’u Biamrillah (tahun 566-576 H/1170-1180 M)
34. An Naashir Liddiinillah (tahun 576-622 H/1180-1225 M)
35. Adh Dhahir Biamrillah (tahun 622-623 H/1225-1226 M)
36. Al Mustanshir Billah (tahun 623-640 H/1226-1242 M)
37. Al Mu’tashim Billah ( tahun 640-656 H/1242-1258 M)
Peradaban dan kebudayaan Islam tumbuh dan berkembang bahkan mencapai kejayaannya pada masa Abbasiyah. Hal tersebut dikarenakan Dinasti Abbasiyah lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah.[6]
Abad X Masehi disebut abad pembangunan daulah islamiyah di mana Dunia Islam, mulai Cordova di Spanyol sampai ke Multan di Pakistan mengalami pembangunan di segala bidang, terutama di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
Dunia Islam pada waktu itu dalam keadaan maju, jaya, makmur, sebaliknya dunia Barat masih dalam keadaan gelap gulita, bodoh dan primitif. Dunia Islam telah sibuk mengadakan penyelidikan di laboratorium dan observatorium, dunia barat masih asyik dengan jampi-jampi dan dewa-dewa. Hal ini disebabkan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad telah menimbulkan dorongan untuk menumbuhkan suatu kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam.[7]
Dasar-dasar pemerintahan dinasti Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu al-Abbas dan Abu Ja’far al-Manshur, maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tuju khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi (775-785 M, al-Hadi (785-786 M), Harun al-Rasyid (786-809 M), al-Ma’mum (813-833 M), al-Mu’tashim (833-842 M), al-Wasiq (842-847 M), dan al-Mutawakkil (847-861 M). Pada masa al-Mahdi perekonomian mulao meningkat dan peningkatan dari sector pertanian, melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga, dan besi. Terkecuali itu dagang transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa kekayaan, Bashrah menjadi pelabuhan penting.
Popularitas dinasti Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalidah Harun al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya al-Ma’mun (813-833 M). kekayaan yang banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial. Rumah sakit, lembaga pendidikan, dokter, farmasi didirikan. Pada masanya, sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Di samping itu, permandian umum juga dibangun. Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, serta kesusastraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi. Al-Ma’mun, pengganti al-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya penerjemahan buku-bukku asing digalakkan, untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Bait al-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dan perpustakaan yang besar, pada masa al-Ma’mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Al-Mu’tashim, khalifah berikutnya (833-842 M), memberikan peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan, keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. Tidak seperti masa dinasti Umayyah, dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. Praktik orang-orang muslim mengikuti perang sudah berhenti. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit professional. Dengan demikian, kekuatan militer dinasti Abbasiyah sangat kuat.[8]
Pada awalnya ibu kota Negara adalah Al-Hasyimiyah dekat Kufah. Namun untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas Negara yang baru berdiri itu al-Manshur memindahkan ibu kota Negara ke kota yang baru dibangunnya, Baghdad pada tahun 762 M. Al-Manshur sangat teliti cermat dan teliti, sebelum ibu kota dipindahkan ia menugaskan beberapa ahli untuk meneliti keadaan daerah tersebut.
Dengan demikian , dinasti Abbasiyah dengan pusatnya di Baghdad sangat maju sebagai pusat kota peradaban dan pusat ilmu pengetahuan. Beberapa kemajuan dalam bidang kehidupan dapat disebutkan sebagai berikut:
  1. Bidang Agama
  2. Fiqh:
  • Imam Abu Hanifah (700-767 M).
  • Imam Malik (713-795 M).
  • Imam Syafi’i (767-820 M).
  • Imam Ahmad bin Hambal (780-855 M).
  1. Ilmu Tafsir:
  • Ibnu Jarir Ath-Thabari.
  • Ibnu Athiyah al-Andalusi.
  • Abu Muslim Muhammad bin Bahar Isfahani
  1. Ilmu Hadits:
  • Imam Bukhari (194-256 H)
  • Imam Muslim (w. 261 H)
  • Ibnu Majah
  • Abu Dawud
  • Imam an-Nasai
  • Imam Baihaqi
  1. Ilmu Kalam:
  • Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi
  • Washil bin Atha, Abu Husail (w.849 M)
  • Al-Juba’i
  1. Ilmu Bahasa:
  • Imam Sibawaih (w.183 H)
  • Al-Kiasi
  • Abu Zakaria al-Farra
  1. Bidang Umum
  2. Filsafat
  • Abu Ishaq Al-Kindi (809-873 M) Karyanya lebih dari 231 judul.
  • Abu Nasr al-Farabi (961 M) Karyanya lebih dari 12 buah buku. Ia memperoleh gelar al-Mu’allimuts Tsani (the second teacher), yaitu guru kedua, sedang guru pertama dalam bidang filsafat adalah Aristotele.
  • Ibnu Sina (980-1037 M) , terkenal dengan Avicenna (980-1037 M). Ia seorang filsuf yang menghidupkan kembali filsafat Yunani aliran Aristoteles dan Plato. Selain filsuf Avicenna juga seorang dokter istana kenamaan. Diantara bukunya yang terkenal adalah Asy-Syifa, dan Al-Qanun fi Ath-Thib (Canon of Medicine).
  • Ibnu Bajah (w.581 H)
  • Ibnu Tufail (w.581 H) penulis buku novel filsafat Hayy bin Yaqdzan.
  • Al-Ghazali (1058-1111 M) Al-Ghazali mendapat julukan Al-Hujjatul Islam, karyanya antara lain: Maqasid al-Falasifah, Al-Munkid Minadh Dhalal, Tahafut Al- Falasifah, dan Ihya Ulumuddin.
  • Ibnu Rusyd (1126-1198 M) Ia seorang filsuf, dokter dan ulama. Karyanya antara lain: Mabadi al-Falasifah, Al-Kuliah fi Ath-Thib, dan Bidayah al-Mujtahid.
  1. Ilmu kedokteran
  • Abu Zakariah Yahya bin Mesuwaih (w.242 H) seorang ahli farmasi di rumah sakit Jundishapur Iran.
  • Abu Bakar ar-Razi (864-932 M) dikenal sebagai “Ghalien Arab”.
  • Ibnu Sina(Avicenna), karyanya yang terkenal adalah Al-Qanun fi Ath-Thib tentang teori dan praktik ilmu kedokteran serta membahas pengaruh obat-obatan, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa, Canon of Medicine.
  • Ar-Razi, adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles (campak), Ar-Razi adalah penulis buku tentang kedokteran anak.
  1. Matematika
Terjemahan dari buku-buku asing ke dalam bahasa Arab, menghasilkan karya dalam bidang matematika. Di antara ahli matematika Islam yang terkenal adalah Al-Khawarizmi, ia adalah pengarang kitab Al-Jabar wal Muqabalah (ilmu hitung), dan penemu angka nol.Sedangkan angka latin: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 0 disebut angka Arab karena diambil dari Arab. Sebelumnya dikenal angka Romawi I, II, II, IV, V dan seterusnya.
Tokoh lain adalah Abu Al-Wafa Muhammad bin Muhammad bin Ismail bin Al-Abbas (940-998) terkenal sebagai ahli ilmu matematika.
  1. Farmasi
  • Ibnu Baithar karyanya yang terkenal adalah Al-Mughni (berisi tentang obat-obatan), Jami Al-Mufradat Al-Adawiyah (berisi tentang obat-obatan dan makanan bergizi).
  1. Ilmu Astronomi
  • Abu Mansur al-Falaki (w.272 H) Karyanya yang terkenal adalah Isbat Al-Ulum dan Hayat Al-Falak.
  • Jabil al-Batani (w.319 H) Ia adalah pencipta teropong bintang pertama. Karyanya yang terkenal adalah kitab Ma’rifat Mathiil Buruj Baina Arbai Al-Falak.
  • Raihan al-Biruni (w.440 H) Karyanya adalah At-Tafhim li Awal As-Sina At-Tanjim.
  1. Geografi
  • Abu Hasan al-Mas’udi (w.345 H/956 M) seorang penjelajah yang mengadakan perjalanan sampai Persia, India, Srilanka, Cina, dan penulis buku Muruj Az-Zahab wa Ma’adin Al-Jawahir.
  • Ibnu Khurdazabah (820-913 M) berasal dari Persia yang dianggap sebagai ahli geografi Islam tertua.di antara karyanya adalah Masalik wa Al-Mamalik, tentang data-data penting mengenai sistem pemerintahan dan peraturan keuangan.
  • Ahmad el-Yakubi penjelajah yang pernah mengadakan perjalanan sampai ke Armenia, Iran, India, Mesir, Maghribi, dan menulis buku Al-Buldan.
  • Abu Muhammad al-Hasan al-Hamadani (w.334 H/946 M) karyanya berjudul Sifatu Jazirah Al-Arab.
  1. Sejarah
  • Ahmad bin al-Ya’kubi (895 M) karyanya adalah Al-Buldan (negeri-negeri) dan At-Tarikh (sejarah).
  • Ibnu Ishaq
  • Abdullah bin Muslim al-Qurtubah (w.889 M)
  • Ibnu Hisyam
  • Ath-Thabari (w.923 M)
  • Al-Maqrizi
  • Al-Baladzuri (w.892 M)
  1. Sastra
  • Abu Nawas, seorang penyair terkenal dengan karya cerita humornya.
  • An-Nasyasi, penulis buku Alfu Lailah wa Lailah (the Arabian Night), adalah buku cerita Seribu Satu Malam yang sangat terkenal dan diterjemahkan ke dalam hampir seluruh bahasa dunia. 

sumber:irmaa