Prinsip Prinsip Belajar dan Aplikasinya dalam Dunia Pendidikan



Prinsip-prinsip belajar dapat mengungkap batas-batas kemungkinan dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran teori dan prinsip-prinsip belajar dapat membantu guru dalam memilih tindakan yang tepat. Selain itu juga berguna untuk mengembangkan sikap yang diperlukan untuk menunjang peningkatan belajar siswa.

Prinsip-prinsip pembelajaran adalah bagian terpenting yang wajib diketahui para pengajar sehingga mereka bisa memahami lebih dalam prinsip tersebut dan seorang pengajar bisa membuat acuan yang tepat dalam pembelajarannya. Dengan begitu pembelajaran yang dilakukan akan jauh lebih efektif serta bisa mencapai target tujuan.

PRINSIP-PRINSIP BELAJAR

Prinsip-prinsip dalam belajar baik bagi siswa yang perlu meningkatkan upaya belajarnya maupun bagi guru dalam upaya meningkatkan kualitas mengajarnya. Prinsip-prinip itu berkaitan dengan perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan individual.
Perhatian dan Motivasi

Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi belajar (Gage dan Berliner, 1984: 335). Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu yang di butuhkan, di perlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya.

Di samping perhatian, motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakan dan mengarahkan aktivitas seseorang. “Motivation is the concept we use when we describe the force actionon or within an organism to initiate and direct behavior” demikian menurut H.L. Petri (Petri, Herbert L, 1986:3). Motivasi dapat merupakan tujuan dan alat dalam pembelajaran. Sebagai tujuan, motivasi merupakan salah satu tujuan dalam mengajar. Guru berharap bahwa siswa tertarik dalam kegiatan intelektual dan estetik sampai kegiatan belajar berakhir. Sebagai alat, motivasi merupakan salah satu faktor seperti halnya intelegensi dan hasil belajar sebelumnya yang dapat menentukan keberhasilan belajar siswa dalam bidang pengetahuan, nilai-nilai, keterampilan.

Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan minat. Siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya. Motivasi juga di pengaruhi oleh nilai-nilai yang di anut akan mengubah tingkat laku manusia dan motivasinya.

Motivasi dapat bersifat internal, artinya datang dari dirinya sendiri, dapat juga bersifat eksternal yakni datang dari orang lain.

Motivasi juga di bedakan atas motif intrinsik dan motif ekstrinsik. Motif intrinsik adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang di lakukan. Sedangkan, motif ekstrinsik adalah tenaga pendorong yang ada diluar perbuatan yang dilakukannya tetapi menjadi penyertanya.

Motif intrindik dapat bersifat internal, datang dari diri sendiri, dapat juga bersifat eksternal, datang dari luar. Motif ekstrinsik bisa bersifat internal maupun eksternal, walaupun lebih banyak bersifat eksternal. Motif ekstrinsik dapat juga berupa menjadi motif intrinsik yang disebut “transformasi motif”.
Keaktifan

Kecenderungan psikologi dewasa ini menganggap bahwa anak adalah makhluk yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan aspirasinya sendiri. Belajar tidak bisa di paksakan eloh orang lain dan juga tidak bisa di limahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendiri. John Dewey mengemukakan, bahwa belajar adlah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri, guru hanya sekedar pembimbing dan pengarah (John Dewey 1916, dalam Davies, 1937:31).

Menurut teori kognitif, belajar menunjukkan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima, tidak sekadar menyimpannya saja tanpa mengadakan tranformasi. (Gage ad Barliner, 1984:267). Menurut teori ini anak memiliki sifat aktif, konstruktif, dan mampu merencanakan sesuatu. Anak mampu untuk mencari, menemukan, dan menggunakan pengetahuan yang telah di perolehnya. Dalam proses belajar-mengajar anak mampu megidentifikasi, merumuskan masalah, mencari dan menemukan fakta, menganalisis, menafsirkan, dan menarik kesimpulan.

Thornidike mengemukakan keaktifan siswa dalam belajar dengan hukum “law of excercise” –nya yang menyatakan bahwa belajar memerlukan adanya latiha-latihan. Mc Keachie berkenaan dengan prinsip keaktifan mengemukakan bahwa individu merupakan “manusia belajar yang aktif selalu ingin tahu, sosial” (Mc Keachie, 1976:230 dari Gredler MEB terjemahan Munandir, 1991:105).

Dalam proses belajar, siswa selalu menampakkan keaktifan. Keaktifan itu braneka ragam bentuknya. Mulai dari kegiatan fisik yang mudah kita amati sampai kegaiatan psikis yang susah diamati.
Keterlibatan Langsung/Berpengalaman

Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman belajar yang dituangkan dalam kerucut pengalamannya mengemukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Dalam belajar melalui pengalaman langsung siwa tidak sekedar mengamati secara langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab trehadap hasilnya.

Pentingnya keterlibatan lansung dalam belajar dikemukakan oleh John Dewey dengan “Learning by doing” –nya. Belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung. Belajar harus dilakukan oleh siswa secara aktif, baik, individual maupun kelompok, dengan cara memecahkan masalah (problem solving). Guru bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator.

Keterlibatan siswa di dalam belajar jangan di artikan keterlibatan fisik semata, namun lebih dari itu terutama adalah keterlibatan mental emosional, keterlibatan engan kegiatan kognitif dalam pencapaian dan perolehan pengetahuan, dalam penghayatan dan internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilai, dan juga pada saat mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan ketrampilan.
Pengulangan

Teori Psikologi Daya menerangkan bahwa belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mengamat, menangggap, mengingat, mengkhayal, merasakan, berpikir dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang. Seperti halnya pisau yang selalu di asah akan menjadi tajam, maka daya-daya yang dilatih dengan pengadaan pengulangan-pengulangan akan menjadi sempurna.

Teori lain yang menekankan prinsip pengulangan adalah teori Psikologi Asosiasi atau Koneksionisme dengan tokohnya yang terkenal Thorndike. Berangkat dari salah satu hukum belajarnya “Law of Exercise”, ia mengemukakan bahwa belajar ialah pembentukan hubungan antara stimulus dan respons, dan pengulangan terhadap pengalaman-pengalaman itu memperbesar peluang timbulnya respon benar. Seperti kata pepatah “Latihan menjadikan sempurna” (Thorndike, 1931b:20, dari Gredler, Margareth E Bell, terjemahan Munandir, 1991:51). Psikologi Conditioning yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari koneksionisme juga menekankan pentingnya pengulangan dalam belajar. Kalau pada koneksionisme, belajr adlah pembentukan hubungan stimulus dan respon maka pada psikologi conditioning respons akan timbul bukan karena saja oleh stimulus. Tetapi juga oleh stimulus yang dikondisikan.

Ketiga teori tesebut menekankan pentingnya prinsip pengulangan dalam belajar walaupun dengan tujuan yang berbeda. Yang pertama pengulangan untuk melatih daya-daya jiwa sedangkan yang kedua dan ketiga pengulangan untuk membentuk respon yang benar dan membentuk kebiasaan-kebiasaan. Walaupun kita dapat menerima bahwa belajar adalah pengulangan seperti yang ikemukakan ketiga teori tersebut, karena tidak dapat dipakai untuk menerangkan semua bentuk belajar, namun prinsip pengulangan masih relevan sebagai dasar pembelajaran. Dalam belajar masih tetap diperluksn latiahan pengulangan. Metode drill dan stereotyping adalah bentuk belajar yang menerapkan prinsip pengulangan (Gage dan Berliner, 1984:259).
Tantangan

Teori medan (Field Theori) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa siswa dalam situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin di capai tetapi selalu terdapat hambatan yaitu mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu yaitu dengan mempelajari bahan belajar tesebut. Apabila hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan belajar talah tercapai, maka ia akan masuk dalam medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya. Agar pada anak timbul motif yang kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik maka bahan belajar ahruslah menantang. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bergairah untuk mengatasinya. Bahan belajar yang baru, yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mempelajarinya. Pelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan prinsip-prinsip, generalisai tersebut. Dan belajar yang telah iolah secara tuntas oleh guru sehingga siswa tinggal menelan saja kurang menarik bagi siswa.

Penggunaan metode Eksperimen, inkuiri, discovery juga memberikan tantangan bagi siswa untuk belajar secara lebih giat dan sungguh-sungguh. Penguatan positif maupun negatif juga akan menantang siswa dan menimbulkan motif untuk memperoleh ganjaran atau terhindar dari hukum yang tidak menyenangkan.
Balikan dan Penguatan

Teori belajar Operant Conditioning dari B.F.Skinner. kalau pada teori Conditioning yang diberi kondisi adalah stimulusnya, maka pada operant conditioning yang dipperkuat adlah responnya. Kunci dari teori belajar ini adalah law of effect-nya Thorndike. Siswa akan belajar lebih bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik. Apalagi, hasil yang baik akn menjadi balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya. Namun dorongan belajar itu menurut B.F.Skinner tidak saj oleh penguatan yang menyenangkan tetapi juga yang tidak menyenangkan. Atau dengan kata lain penguatan positif maupun negatif dapat memperkuat belajar (Gage dan Berliner, 1984:272).
Perbedaan individual

Siswa merupakan individual yang unik artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lain. Perbedaan itu terdapat pada karakteristik psikis, kepribadian, dan sifat-sifatnya.

Perbedaan individual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya, perbedaan individu perlu diperhatiakan oleh guru dalam upaya pembelajaran. Sistem penidikan klasikal yang dilakukan di sekolah kita kurang memperhatikan masalah perbedan individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melihat siswa sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya.

Pembelajaran yang bersifat klasikal yang mengabaikan perbeaan individual dapat diperbaiki dengan beberapa cara. Antara lain penggunaan metode atau strategi belajar-mengajar yang bervariasi sehingga perbedaan-perbedaan kemampuan siswa dapat terlayani. Juga penggunaan media intruksional akan membantu melayani perbeaan-perbedaan siswa dalam belajar. Usaha lain untuk pembelajaran klasikal adalah dengan memberikan tambahan pelajaran atau pengayaan pelajaran bagi siswa yang pandai, dan memberikan tugas-tugas hendaknya disesuaikan dengan minat dan kemampuan siswa sehingga bagi siswa yang pandai, sedang, maupun kurang akan merasakan berhasil di dalam belajar. Sebagai unsur primer dan sekunder dalam pembelajaran, maka dengan sendirinya siswa dan guru terimplikasi adanya prinsip-prinsip belajar.

IMPLIKASI PRINSIP-PRINSIP BELAJAR BAGI SISWA

Siswa sebagai “primus motor” (motor utama) dalam kegiatan pembelajaran, dengan alasan apa pun tidak dapat mengabaikan begitu saja adanya prinsip-prinsip belajar. Justru para siswa akan berhasil dalam pembelajaran, jika mereka menyadari implikasi prinsip-prinsip belajar tersebut.
Perhatian dan motivasi

Siswa dituntut untuk memberikan perhatian terhadap semua rangsangan yang mengarah ke arah pencapaian tujuan belajar. Adanya tuntutan ini, menyebabkan siswa harus membangkitkan perhatiannya kepada segala pesan yang dipelajarinya. Pesan-pesan yang menjadi isi pelajaran seringkali dalam bentuk rangsangan suara, warna, bentuk, gerak danrangsangan lain yang dapat diindra. Dengan demikian siswa diharapakan selalu melatih indranya untuk memperhatikan rnagsangan yang muncul dalam proses pembelajaran. Peningkatan/pengembangan minat ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi (Gage dan Berliner, 1984:373)

Sedangkan implikasi prinsip motivasi bagi para siswa adalah disadarinya oleh siswa bahwa motivasi belajar yang ada pada diri mereka harus dibangkitkan dan mengembangkn secara terus menerus. Untuk dapat melakukan hal itu, siswa dapat melakukannya dengan menentukan/mengetahui tujuan belajar yang hendak dicapai, menanggapi secara positif pujian/dorongan dari orang lain, menentukan target atau sasaran, penyelesaian tugas belajar, dan perilaku sejenis lainnya.
Keaktifan

Sebagai “primus motor” dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan belajar, siswa dituntut untuk selalu aktif memproses dan mengolah perolehan belajarnya. Untuk dapat memproses dan memperoleh belajarnya secara efektif, pebelajar dituntut untuk aktif secar fisik, intelektual, dan emosional. Implikasi prinsip keaktifan bagi siswa lebih lanjut menuntut keterlibatan langsung siswa dalam proses pembelajaran.
KeterlibatanLangsung/berpengalaman

Hal apapun yang dipelajari oleh siswa, maka ia harus mempelajarinya sendiri. Tidak ada seorang pun dapat melakukan kegiatan belajar tersebut untuknya (Davies, 1987:32). Pernyataan ini, secara mutlak menuntut adanya keterlibatan langsung dari setiap siswa dalam kegiatan belajar pembelajaran. Implikasi prinsip ini dituntut pada para siswa agar tidak segan-segan mengerjakan segala tugas belajar yang diberikan kepada mereka. Dengan keterlibatan secara langsung ini,secara logis akan menyebabkan mereka memperoleh pengalaman.
Pengulangan

Penguasaan secara penuh dari setiap langkah memungkinkan belajar secara keseluruhan lebih berarti (Davies, 1987:32). Dari pernyataan inilah pengulangan masih diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Implikasi adanya prinsip pengulangan bagi siswa adalah keadaran siswa untuk bersedia mengerjakan latihan-latihan yang berulang-ulang untuk satu macam permasalahan. Dengan kesadaran ini, siswa diharapkan tidak bosan dalam melakukan pengulangan.
Tantangan

Prinsip belajar ini bersesuaian dengan pernyataan bahwa apabila siswa diberikan tanggung jawab untuk mempelajari sendiri, maka ia lebih termotivasi untuk belajar, ia akan belajar dan mengingat secara lebih baik (Davies, 1987:32). Hal ini berarti siswa selalu menghadapi tantangan untuk memperoleh, memprose, dan mengolah setiap pesan yang ada dalam kegiatan pembelajaran. Implikasi prinsip tantangan bagi siswa adalah tuntutan dimilikinya kesadaran pada diri siswa akan adanya kebutuhan untuk selalu memperoleh, memproses, dan mengolah pesan. Selain itu, siswa juga harus memiliki keingintahuan yang besar terhadap segala permasalan yang di hadapinya.
Balikan dan penguatan



Siswa selalu membutuhkan suatu kepastian dari kegiatan yang dilakukan, apakah benar apa salah? Dengan demikian siswa akan selalu memiliki pengetahuan tentang hasil (knowledge of result), yang sekaligus merupakan penguat (reinforce) bagi dirinya sendiri. Seorang siswa belajar lebih banyak bilamana setiap langkah segera di berikan penguatan (reinforcement) (Davies, 1987:32). Hal ini timbul karena kesadaran adanya kebutuhan untuk memperoleh balikan dan sekaligus penguatan bagi setiap kegiatan yang dilakukannya.


Perbedaan individual

Setiap siswa memiliki karakteristi sendiri-sendiri yang berbeda satu dengan yang lain. Karena hal inilah, setiap siswa belajar menurut tempo (kecepatan)nya sendiri dan untuk setiap kelompok umur terdapat variasi kecepatan belajar (Davies, 1987:32). Kesadaran bahwa dirinya berbeda dengan siswa lain, akan membantu siswa menentukan cara belajar dan sasarn belajar bagi dirinya sendiri. Implikasi adanaya prinsip perbedaan individual bagi siswa diantaranya adalah menentukan tempat duduk di kelas, menyusun jadwal belajar, atau memilih bahwa implikasi adanya prinsip perbedaan individu bagi siswa dapat berupa perilaku fisik maupun psikis.

IMPLIKASI PRINSIP-PRINSIP BELAJAR BAGI GURU

Guru sebagai penyelenggara dan pengelola kegiatan pembelajaran terimplikasi oleh adanya prinsip-prinsip belajar. Implikasi prinsip belajar bagi guru tertampak pada rencana pembelajaran maupun pelaksanaan kegiatan pembelajarannya. Implikasi ini bagi guru terwujud dalam perilaku fisik dan psikis mereka.
Perhatian dan motivasi

Implikasi prinsip perhatian bagi guru tertampak pada perilaku-perilaku sebagai berikut:

1) Guru menggunakan metode secara bervariasi.

2) Guru menggunakan media sesuai dengan tujuan belajar dan materi yang diajarkan.

3) Guru menggunakan gaya bahasa yang tidak monoton.

4) Guru mengemukakan pertanyaan-pertanyaan membimbing (direction question).

Sedangkan implikasi prinsip motivasi bagi guru tertampak pada perilaku-perilaku diantaranya:

1) Memilih bahan ajar sesuai minat siswa.

2) Menggunakan metode dan tehnik mengajar yang disukai siswa.

3) Mengoreksi sesegara mungkin pekerjaan siswa dan sesegera mungkin memberi tahukan hasilnya.

4) Memberikan ujian verbal atau non-verbal terhadap siswa yang memberikan respons atas pertanyaan yang diberikan.

5) Memberitahukan nilai guna dari pelajaran yang sedang dipelajari siswa.


Keaktifan

Peran guru mengorganisasikan kesempatan belajar bagi masing-masing siswa berarti mengubah peran guru dari bersifat dedaktis menjadi lebih bersifat mengindividualis, yaitu menjamin bahwa setiap siswa memperoleh pengetahuan dan ketrampilan di dalam konisi yang ada (Sten, 1988: 224). Hal ini berarti pula bahwa kesempatan yang diberikan oleh guru akan menuntut siswa selalu aktif mencari, memperoleh, dan mengolah perolehan belajarnya. Implikasi yang dapat dilakukan guru untuk menimbulkan keaktifan belajar pada siswa diantaranya adalah:

1) Menggunakan multimetode dan multimedia.

2) Memberikan tugas secara individual dan kelompok.

3) Memberikan kesempatan pada siswa melaksanakan eksperimen dalam kelompok kecil.

4) Memberikan tugas untuk membaca bahan belajar, mencatat hal-hal yang kurang jelas.

5) Mengadakan tanya jawab dan diskusi.


Keterlibatan langsung/berpengalaman

Untuk dapat melibatkan siswa secara fisik, mental-emosional, dan intelektual alam kegiatan pembelajaran,maka guruhendaknya merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan mempertimbangkan karakteristik isi pelajaran. Perilaku sebagai implikasi prinsip ketrelibatan langsung/berpengalaman diantaranya:

1) Merancang kegaiatan pembelajaran yang lebih banyak pada pembelajaran individual dan kelompok kecil.

2) Mementingkan eksperimen langsung oleh siswa dibandingkan engan demonstrasi.

3) Menggunakan media yang langsung digunakan oleh siswa.

4) Memberiakan tugas kepada siswa untuk mempraktekkan gerakan psiomotorik yang dicontohkan.

5) Melibatkan siswa mencari informasi/pesan dari sumber imformasi di luar kelas atau luar sekolah.

6) Melibatkan siswa dalam menrangkum dan menyimpulkan informasi pesan pembelajaran.

Implikasi lain dari adanya prinsip keterlibatan langsung/berpengalaman bagi guru adalah kemampuan guru untuk bertindak sebagai manager/pengelola kegiatan pembelajaran yang mampu mengarahkan, membimbing, dan mendorong siswa kearah tujuan pengajaran yang ditetapkan.
Pengulangan

Implikasi prinsip pengulangan bagi guru adalah mampu memilihkan antara kegiatan pembelajaran yang berisi pesan yang membutuhkan pengulangan dengan yang tidak membutuhkan pengulangan. Hal ini perlu dimiliki oleh guru karena tidak semua pesan pembelajaran membutuhkan pengulangan. Perilaku guru yang merupakan implikasi prinsip pengulangan diantaranya:

1) Merancang pelaksanaan pengulangan.

2) Mengembangakan atau merumuskan soal-soal latihan.

3) Mengembangkan petunjuk kegiatan psikomotorik yang harus diulang.

4) Mengembangkan alat evalusai kegiatan pengulangan.

5) Membuat kegiatan pengulangan yang bervariasi.


Tantangan

Tantangan dalam kegiatan pembelajaran dapat diwujudkan oleh guru melalui bentuk kegiatan, bahan, dan alat pembelajaran yang dipilih untuk kegiatan pembelajaran. Perilaku guru yang merupakan implikasi prinsip tantangan di antaranya:

1) Merancang dan mengelola kegiatan eksperimen yang memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukannya secara individual atau dalam kelompok kecil.

2) Memberikan tugas pada siswa memecahkan masalah yang membutuhkan informasi dari orang lain diluar sekolah sebagai sumber informasi.

3) Menugaskan kepada siswa untuk menyimpulkan isi pelajaran yang selesai disajikan.

4) Mengembangkan bahan pembelajaran (teks, hand out, modul dan yang lain) yang memperhatikan kebutuhan siswa untuk mendapatkan tantangan didalamnya, sehingga tidak harus semua pesan pembelajaran disajikan secara detail tanpa memberikan kesempatan siswa mencari dari sumber lain.

5) Membimbing siswa untuk menemukan fakta, konsep, prinsip, dan generalisasi sendiri.

6) Guru merancang dan mengelola kegiatan diskusi untuk menyelenggarakan masalah-masalah yang disajikan dalam topik diskusi.


Balikan dan penguatan

Balikan dapat berikan secara lisan atau tertulis, baik secara individual, ataupun kelompok klasikal. Guru sebagai penyelenggara kegiatan pembelajaran harus dapat menentukan bentuk, cara, serta kapan balikan dan penguatan di berikan. Agar balikan dan penguatan bermakna bagi siswa, guru hendaknya memperhatikan karakteristik siswa. Implikasi prinsip balikan dan penguatan bagi guru, berwujud perilaku-perilaku diantaranya:

1) Memberihatukan jawaban yang benar setiap kali mengajukan pertanyaan yang telah di jawab siswa secara benar ataupun salah.

2) Mengoreksi pembahasan pekerjaan rumah yang diberikan kepada siswa pada waktu yang telah ditentukan.

3) Memberikan catatan-catatan pada hasil kerja siswa, berdasarkan hasil koreksi guru terhadap hasil kerja pembelajaran.

4) Membagikan lembar jawaban tes pelajaran yang telah dikoreksi oleh guru, disertai skor dan catatan-catatan bagi pembelajar.

5) Mengumumkan atau mengkonfirmasikan peringkat yang diraih setiap siswa berdasarkan skor yang dicapai dalam tes.

6) Memberikan anggukan atau acungan jempol atau isyarat lain pada siswa yang menjawab dengan benar pertanyaan yang disajikan guru.

7) Memberikan hadiah/ganjaran kepada siswa yang berhasil menyelesaikan tugas.


Perbedaan individual

Guru sebagai penyelenggara kegiatan pembelajaran dituntut untuk memberikan perhatian kepada semua keunikan yang melekat pada setiap siswa. Dengan kata lain, guru tidak mengasumsikan bahwa siswa dalam kegiatan pembelajaran merupakan satu kesatuan yang memiliki karakteristik yang sama. Konsekuensi logis dalam hal ini, guru harus mampu melayani setiap siswa sesuai karakteristik orang per orang. Implikasi prinsip perbadaan individual bagi guru berwujud perilaku-perilaku diantaranya:

1) Menentukan penggunaan berbagai metode yang diharapkan dapat melayani kebutuhan siswa sesuai karakteristiknya.

2) Merancang pemanfaatan berbagai media dalam menyajikan pesan pembelajaran.

3) Mengenali karakteristik setiap siswa sehingga dapat menentukan perlakuan pembelajaran yang tepat bagi siswa yang bersangkutan.

4) Memberikan remediasi ataupun pertanyaan kepada siswa yang membutuhkan.



Daftar Pustaka

Davies, Ivor K. (penerjemah: Sudarsono S., dkk.). 1987. Pengelolaan belajar. Jakarta: C.V. Rajawali dan PAU-UT.

Gage, N.L., dan David C. Berliner. 1984. Educational Psycology. Chicago: Rand Mc Nally College Publishing Company.

Gredler, Margaret E. Bell. (penerjamah Munandir). 1991. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: C.V. Rajawali dan PAU-UT.

Petri, Herbert L., 1986. Motivation: Theory and Research. Belmong, California: Wadsworth Publishing Company.

sumber: afid